Rabu, 01 Juni 2016

BK Komprehensif Bagian Ke-2

BK KOMPREHENSIF BAGIAN 2

A. Layanan Dasar Bimbingan
            Layanan dasar bimbingan merupakan layanan bantuan bagi peserta didik melalui kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal.
            Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya. Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebgai upaya membantu siswa agar:
1.      memiliki kesadaran pemahaman tentang diri dan lingkungannya (pendidikan,  pekerjaan, sosial-budaya, dan agama);
2.      mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan lingkungannya;
3.      mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, serta mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
            Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kepada para siswa disajikan materi layanan yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karier yang kesemuanya terkait dengan pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci materi aspek-aspek tugas-tugas perkembangan itu dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.      Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Pengembangan kemandirian emosional.
3.      Pengembangan kemampuan individual (problem solving/ decision making)
4.      Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang positif atau keterampilan belajar yang efektif.
5.      Pengembangan perilaku sosial yang bertanggung jawab (sikap altruis, sikap toleran dalam suasana kehidupan yang heterogen: multi budaya, etnis, ras dan agama.
6.      Pengembangan upaya pencapaian peran sosial sebagai pria atau wanita.
7.      Pengembangan sikap penerimaan diri secara objektif dan pengembangan secara tepat.
8.      Pengembangan sikap dan kemampuan mempersiapkan karier di masa depan.
9.      Pengembangan upaya pencapaian hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita
10.  Pengembangan sikap positif terhadap pernikahan dan hidup berkeluarga.

B.            Layanan Responsif
            Layanan responsif merupakan “layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan (pertolongan) dengan segera.”
            Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhannya yang dirasakan pada saat ini, atau para siswa yang dipandang mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku bermasalah, atau malasuai (maladjustment).
            Layanan ini lebih bersifat kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif ini adalah bidang: (1) pendidikan; (2) belajar; (3) sosial; (4) pribadi; (5) karir; (6) tata tertib di sekolah; (7) narkotika dan perjudian; (8) perilaku seksual; dan (9) kehidupan lainnya.
            Aspek-aspek yang perlu mendapat layanan responsif itu antara lain adalah sebagai berikut.
1)      Bidang Pribadi
a)      Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mencakup:
(1)   Kurang motivasi untuk mempelajari agama
(2)   Kurang memahami bahwa agama sebagai pedoman hidup
(3)   Kurang memiliki kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia diawasi Tuhan
(4)   Masih merasa malas untuk melaksanakan shalat (ibadah)
(5)   Kurang memiliki kemampuan untuk bersabar dan bersyukur.
b)      Perolehan sistem nilai, meliputi:
(1)   Masih memiliki kebiasaan berbohong
(2)   Masih memiliki kebiasaan mencontek
(3)   Kurang berdisiplin (khususnya memelihara kebersihan).
c)      Kemandirian emosional, meliputi:
(1)   Belum mampu menghormati orangtua atau orang lain secara ikhlas
(2)   Masih kurang mampu menghadapi atau mengatasi situasi frustasi (stress) secara positif.
d)     Pengembangan keterampilan intelektual, meliputi:
(1)   Masih kurang mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang
(2)   Masih suka melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan baik-buruknya, rugi-untungnya
e)      Menerima diri dan mengembangkannya secara efektif, meliputi:
(1)   Kurang merasa bangga dengan keadaan diri sendiri
(2)   Merasa rendah diri, apabila bergaul dengan orang lain yang mempunyai kelebihan (seperti teman yang lebih cantik/ tampan)
2)      Bidang Sosial
a)      Berperilaku sosial yang bertanggung jawab, meliputi:
(1)   Kurang menyenangi kritikan orang lain
(2)   Kurang memahami tatakrama (etika) pergaulan
(3)   Kurang berpartisipasi dalam kegiatan sosial, baik di sekolah maupun di masyarakat.
b)      Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya, meliputi:
(1)   Merasa malu untuk berteman dengan lawan jenis
(2)   Merasa tidak senang kepada teman yang suka mengkritik.
3)      Bidang Belajar
a)      Kurang memiliki kebiasaan belajar yang baik
b)      Kurang memahami cara belajar yang efektif
c)      Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar
d)     Kurang memahami cara membaca buku yang efektif
e)      Kurang memahami cara membagi waktu belajar
f)       Kurang menyenangi pelajran-pelajaran tertentu.
4)      Bidang Karier
a)      Kurang memahami cara memilih program studi yang cocok dengan kemampuan dan minat
b)      Kurang mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang dunia kerja
c)      Masih bingung untuk memilih pekerjaan
d)     Masih kurang mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan minat
e)      Merasa cemas untuk mendapat pekerjaan setelah tamat sekolah
f)       Belum memiliki pilihan perguruan tinggi tertentu, jika setelah tamat tidak masuk dunia kerja.
Masalah lain adalah informasi entang bahayanya obat-obat terlarang, minuman kersa, narkotika, extacy dan putau.

C.           Layanan Perencanaan Individual
Layanan perencanaan individual dapat diartikan sebagai layanan bantuan kepada semua siswa agar mampu membuat danmelaksanakan perencanaan masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahan dirinya.
Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan social pribadinya. Membantu individu memantau dan memahami pertumbuhan dan perkembangannya sendiri., kemudian merencanakandan mengimplementasikan rencana-rencananya itu sesuai dengan poemantauan dan pemahamannya itu.
Dapat juga dikemukakan bahwa layanan ini bertujuan untuk membimbing seluruh siswa agar (a) memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap pengembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, soaial, belajar maupun karir, (b) belajar dapat memantau dan memehami perkembangan dirinya, (c) dapat melakukan kegiatan atau tindakan berdasarkan pemahamannya atau tujuan yang telah dirumuskan secara proaktif.
Teknik bimbingannya adalah konsultasi dan konseling. Isi layanan perencanaan individual adalah: (1) bidang pendidikan dengan topic-topik belajar yang efektif, belajar memanfaatkann program keahlian yang sesuai dengan bakat, minat, dan karakteristik kepribadian lainnya, (2) bidang karir dengan topic-topik mengidentifikasi kesempatan karir yang ada di lingkungan masyarakat, mengembangkan sikap yang positif terhadap dunia kerja , dan merencanakan kehidupan karirnya, (3) bidang social-pribadi dengan topic-topik mengembangkan konsep diri yang positif, mengembangkan keterampilan-keterampilan social yang tepat, belajar menghindari konflik dengan teman, dan belajar memahami perasaan orang lain.
Adapun kegiatan layanannya adalah sebagai beriku:
1.      Siswa menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, social, belajar, atau karir.
2.      Merumusakan tujuan, dan perencanaan kegiatan (alternative kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya.
3.      Melakukan kegiatan yang sesuai tujuan atau perencanaan  yang telah ditetapkan.
4.      Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

D.           Dukungan System
Ketiga komponen program di atas, merupakan pemberian layanan BK kepada para siswa secara langsung. Sedangkan dukungan system merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberaikan bantuan kepada siswa, atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa.
Dukungan ssistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan mamantapkan, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/ penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing bdalam rangka memperlancar penyelenggaraan ketiga program layanan di atas. Sedangkan bagi personel pendidikan lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan system ini meliputi dua aspek yaitu: (1) pemberian layanan, dan (2) kegiatan manajemen.
1.      Pemberian layanan, menyangkut kegiatan guru pembimbing yang meliputi:
a.       Konsultasi dengan guru-guru.
b.      Menyelenggarakan program kerja sama dengan orang tua atau masyarakat.
c.       Berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah.
d.      Bekerja sama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa.
e.       Melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
2.      Kegiatan manajemen
Kegiatan manajemen ini merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya,  dan pengembangan penataan kebijaksanaan.
a)         Pengembangan Program
Pengembangan program ini hendaknya diselaraskan dengan hasil kajian atau analisis tentanng tujuan dan program sekolah; kondisi objektif pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa, atau kebutuhan dan masalah siswa; kondisi objektif lingkungan perkembangan siswa; implementasi actual layanan BK di SMK; dan perkembangan masyarakat (social budaya, dan dunia industry atau perusahaan).
Berdasarkan pertimbanngan ini, maka seyogyanya program BK itu bersifat fleksibel (tilikan kontekstual), namun tetap idealis. Dalam mengembangkan program ini perlu dilakukan hal-hal berikut.
(1) Merumuskan tujuan layanan BK yang berorientasi kepada pengembangan tugas-tugas perkembangan siswa.
(2) Mengintegrasikan program BK kepada program pendidikan di SMK secara keseluruhan, baik dalam pelaksanaan program intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan pendidikan lainnya.
(3) Menata struktur organisasi dan mekanisme kerja personel yang memungkinkan terjadinya koordinasi , komunikasi dan jalinan kerjasama diantara mereka, sehingga program layana BK tersebut dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
(4) Merumuskan bidang isi bimbingan, atau topic-topik bimbingan yang relevan dengan penngembangan tugas-tugas perkembangan siswa.
(5) Merumuskan jenis layanan bimbingan yang menunjang peluncuran komponen program layanan, baik program layanan bimbingan, layanan responsif, maupun layanan perencanaan individual.
(6) Rekrutmen petugas bimbingan yang professional, (jika memungkinkan) yang jumlahnya memadai dengan banyaknya siswa.
(7) Melengkapi sarana yang memadai, seperti: alat-alat pengumpul data, alat-alat penyimpan data, dan perlengkapan administrasi; prasarana yang memadai pula, seperti; ruangan bimbingan yang meliputi ruangan kerja guru pembimbing, ruang konseling, ruang bimbingan kelompok, ruang dokumentasi, ruang tamu, ruang perpustakaan khusus; dan biaya atau budget untuk keperluan surat-menyurat, home visit, penataran, penelitian, atau keperluan lain yang menunjang pencapaian tujuan BK.
(8) Mengevaluasi program yang telah dilaksanakan.

b)        Pengembangan Staf
Pembimbing atau personel sekolah lainnya diharapkan mampu memberikan layanan bimbingan secara bermutu. Oleh karena itu diperlukan penambahan, perluasan atau pendalaman tentang konsep-konsep atau keterampilan tertentu tentang bimbingan sesuai dengan deskripsi pekerjaan (kinerja) masing-masing.
Bentuk pengembangan staf itu bisa dilaksanakan melalui seminar, penataran, atau lokakarya. Dengan kegiatan pengembangan itu diharapkan para personel sekolah memiliki kompetensi atau kemampuan sesuai dengan kienerja masing-masing.
Berikut ini adalah kinerja dari masing-masing personel di sekolah:
(1)      Kepala Sekolah
(a)    Mengkoordinasikan semua kegiatan pendidikan yang diprogramkan sekolah, sehingga kegiatan-kegiatan itu, baik bimbingan maupun pelatihan dalam pelaksanaannya menjadi satu kesatuan yang terpadu, harmonis, dan dinamis.
(b)   Menyediakan sarana-prasarana, tenaga, dan berbagai kemudahan lainnya bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.
(c)    Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap guru pembimbing dalam melaksanakan kegiatan perencanaa, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut layanan bimbingan.
(d)   Menerapkan kebijakan yang menunjang terciptanya iklim pendidikan di sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa secara optimal
(e)    Memahami kedudukan program bimbingan dan konseling sebagai salah satu komponen penting pendidikan yang harus dilaksanakan di sekolah.
(f)    Memahami konsep dasar bimbingan dan karakteristik siswa.
(2)  Guru Mata Pelajaran
(a)    Memahami konsep dasar bimbingan dan karakteristik siswa (tugas-tugas perkembangan siswa), sebagai landasan untuk memberikan layanan bimbingan.
(b)   Memahami keragaman karakteristik siswa dalam aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, temperamen (periang, pendiam, pemurung atau mudah tersinggung), dan karakternya (seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab).
(c)    Menandai siswa yang diduga mempunyai masalah atau siswa yang gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
(d)   Menciptakan iklim kelas yang secara sosiopsikologis kondusif bagi kelancaran belajar siswa, seperti: bersikap ramah, bersikap respek terhadap siswa, bersikap adil (tidak menganaktirikan atau menganakemaskan siswa), menghargai pendapat atau hasil karya siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau mengemukakan pendapat, bergairah saat mengajar, dan berdisiplin.
(e)    Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
(f)    Mereferal (mengalihtangankan) siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing.
(g)   Bekerja sama dengan guru pembimbing dalam rangka membantu siswa.
(h)   Memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati siswa.
(i)     Memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja (tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja).
(j)     Menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual. Hal ini penting karena guru merupakan figur sentral bagi siswa.
(k)   Memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran yang diberikannya secara efektif.
(3)  Guru Pembimbing (Konselor)
(a)    Memahami konsep-konsep bimbingan dan konseling, serta ilmu bantu lainnya.
(b)   Memahami karakteristik pribadi siswa, khususnya tugas-tugas perkembangan siswa dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
(c)    Mensosialisasikan (memasyarakatkan) program layanan bimbingan dan konseling.
(d)   Merumuskan perencanaan program layanan bimbingan dan konseling.
(e)    Melaksanakan program layanan bimbingan dan konseling, yaitu: layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Guru pembimbing dituntut untuk memiliki pemahaman dan keterampilan dalam melaksanakan layanan-layanan: orientasi, informasi, bimbingan kelompok, konseling individual, maupun kelompok, pembelajaran, penempatan, dan referal.
(f)    Mengevaluasi program hasil (perubahan sikap dan perilaku siswa, baik dalam aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir).
(g)   Menindaklanjuti hasil evaluasi. Hal ini dilakukan dalam bentuk: usaha perbaikan/penyempurnaan program, peningkatan kualitas layanan, penambahan fasilitas, dan penyampaian informasi hasil evaluasi kepada pihak terkait di sekolah.
(h)   Menjadi konsultan bagi guru dan orangtua siswa. Berperan untuk menolong guru dan orangtua siswa melalui pemberian informasi, konsultasi, atau dialog tentang hal ihwal siswa. Dengan kegiatan ini, guru dan orangtua diharapkan dapat membantu siswa dalam rangka mengembangkan dirinya secara optimal. Hal yang dikonsultasikan diantaranya mengenai motivasi belajar siswa, tingkah laku siswa, kebiasaan belajar siswa, dan pengelolaan kelas.
(i)     Bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait.
(j)     Mengadministrasikan program layanan bimbingan.
(k)   Menampilkan pribadi secara matang, baik menyangkut aspek emosional, sosial, maupun moral-spiritual.
(l)     Memiliki kemauan dan kemampuan untuk senantiasa mengembangkan model layanan bimbingan, seiring dengan kebutuhan dan masalah siswa, serta perkembangan masyarakat (sosial, budaya, atau dunia industri).
(m) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya kepada kepala sekolah.

c)      Pemanfaatan Sumber Daya Masyarakat
Berkaitan dengan upaya sekolah untuk menjalin kerja sama dengan unsur-unsur msyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Pihak yang dapat diajak bekerja sama diantaranya:
1.      instansi pemerintah
2.      instansi swasta
3.      organisasi profesi, seperti IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia), sekarang ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia)
4.      para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti: psikolog, psikiater, dokter, dan orangtua siswa
5.      MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling).
Bagi SMK, kerjasama ini terutama dengan pihak industri atau perusahaan (dalam rangka pelaksanaan SPG), dan juga dengan Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
d)     Pengembangan atau Penentuan Kebijakan
Pelaksanaan layanan BK di sekolah perlu didukung oleh kebijakan kepala sekolah secara jelas. Kebijakan itu diharapkan dapat memberi kemudahan dan peluang bagi kelancaran implementasi program.
Kebijakan yang dimaksud meliputi aspek-aspek:
1.      Struktur organisasi
2.      Rekruitmen dan pengembangan staf bimbingan
3.      Penyediaan sarana dan prasarana yang memadahi
4.      Pengalokasian biaya operasional BK
5.      Penjadwalan waktu khusus untuk masuk kelas bagi guru pembimbing, sebagai wahana untuk pelaksanaan program yang bersifat klasikal
6.      Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait.
DiPosting oleh Adi Permana

Proses dan Tahap Konseling



PROSES DAN TAHAP KONSELING INDIVIDUAL
A.     Pengertian Proses Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara seorang konselor/ahli dengan seorang klien. Dalam hal ini, klien dibantu untuk memahami dirinya, keadaanya, kemungkinan keadaannya dimasa depan, demi kesejahteraan dirinya dan masyarakat. Lebih lanjut, klien dapat memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Menurut Jones, konseling adalah suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan seorang klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual, meskipun teradang melibatkan dua orang atau lebih dan dirancang untuk membantu klien untuk memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehinga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan sebuah hubungan profesional yang dilakukan antara konselor dengan seorang klien yang dimaksudkan untuk membantu klien dalam memecahkan masalah yang ada pada dirinya, mengenal kebutuhan dan potensi yang ada pada dirinya, serta membantunya dalam mengaktualisasikan dirinya.

B.     Proses dan Langkah-Langkah dalam Konseling
Proses konseling pada dasarnya bersifat sistematis. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sampai pada pencapaian konseling yang sukses. Tetapi sebelum memasuki tahapan tersebut, sebaiknya konselor memperoleh data mengenai diri klien melalui wawancara pendahuluan (intake interview). Manfaat dari intake interview  adalah memperoleh data pribadi atau hasil pemeriksaan klien. Setelah itu, konselor dapat memulai langkah selanjutnya.
Langkah-langkah dalam konseling adalah sebagai berikut.
1.      Relating (Membangun Hubungan)
Membangun hubungan dijadikan langkah pertama dalam konseling, karena klien dan konselor harus  saling mengenal dan menjalin kedekatan emosinal sebelum sampai pada pemecahan masalahnya. Pada tahapan ini, konselor harus menunjukkan bahwa ia dapat dipercaya dan kompeten dalam menangani masalah klien. Hubungan konseling harus berbentuk a working relationship yaitu hubungan yang berfungsi, bermakna, dan berguna. Konselor dan klien  saling terbuka satu sama lain tanpa ada kepura-puraan. Selain itu, konselor dapat melibatkan klien terus menerus dalam proses konseling. Keberhasilan pada tahap ini menentukan keberhasilan langkah konseling selanjutnya.
Membangun hubungan dalam konseling juga dapat dimanfaatkan konselor untuk menentukan sejauh mana klien mengetahui kebutuhannya dan harapan apa yang ingin dia capai dalam konseling. Konselor juga dapat meminta klien agar berkomitmen menjalani konseling dengan sungguh-sungguh.
Pada tahap ini konselor membina hubungan baik dengan klien dengan cara menunjukkan perhatian, penerimaan, penghargaan, dan pemahaman empatik. Apabila klien dekat dengan dan percaya kepada konselor, ia akan bersedia membuka diri lebih jauh untuk mengemukakan masalah yang dihadapinya kepada konselor. Sehingga klien dengan suka rela termotivasi untuk mengikuti proses konseling sampai selesai.
2.      Identifikasi dan penilaian masalah
Apabila hubungan konseling telah berjalan baik, maka langkah selanjutnya adalah memulai mendiskusikan sasaran-sasaran spesifik dan tingkah laku seperti apa yang menjadi ukuran keberhasilan konseling. Konselor memperjelas tujuan yang ingin dicapai oleh mereka berdua. Hal yang penting dalam langkah ini adalah bagaimana keterampilan konselor dapat mengangkat isu dan masalah yang dihadapi klien. Pengungkapan  masalah klien kemudian diidentifikasi dan didiagnosa secara cermat. Seringkali klien tidak begitu jelas mengungkapkan masalahnya. Apabila ini terjadi konselor harus membantu klien mendefinisikan masalahnya secara tepat agar tidak terjadi kekeliruan dalam diagnosa.
3.       Memfasilitasi perubahan konseling
Pada tahap ini, konselor mulai memikirkan alternatif pendekatan dan strategi yang akan digunakan agar sesuai dengan masalah klien. Harus dipertimbangkan pula bagaimana konsekuensi dari alternatif dan strategi tersebut. Jangan sampai pendekatkan dan strategi yang digunakan bertentangan dengan nilai-nilai yang terdapat pada diri klien, karena akan menyebabkan klien otomatis menarik dirinya dan menolak terlibat dalam proses konseling. Ada beberapa strategi yang dikemukakan oleh Willis untuk mempertimbangkan dalam konseling:
a.       Mengkomunikasikan nilai-nilai inti agar klien selalu jujur dan terbuka sehingga dapat mengali lebih dalam masalahnya.
b.      Menantang klien untuk mencari rencana dan strategi baru melalui berbagai alternatif. Hal ini akan membuatnya termotivasi untuk meningkatkan dirinya sendiri.
Pada langkah ini terlihat dengan jelas bagaimana proses konseling berjalan. Apakah terjadi perubahan strategi atau alternatif. Yang telah disusun? Sudah tepat atau malah tidak sesuai?. Proses konseling berjalan-jalan terus-meneruspada akhirnya sampai kepada pemecahan masalah.

4.      Evaluasi dan Terminasi
Tahap ini adalah langkah terakhir dalam proses konseling secara umum. Evaluasi terhadap hasil konseling akan dilakukan secara keseluruhan. Yang menjadi ukuran keberhasilan konseling akan tampak pada kemajuan tingkah laku klien yang berkembang kearah yang lebih positif. Proses konseling bisa dikatakan berhasil, dilihat dari hal berikut:
a.       Menurunnya tingkat kecemasan klien
b.      Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih positif, sehat dan dinamis.
c.       Adanya rencana hidup dimasa mendatang dengan program yang jelas
d.      Terjadi perubahan sikap positif. Hal ini ditandai dengan klien sudah mampu berfikir realistis dan percaya diri.
  
Di Posting Oleh Yahya Wahaka

Perkembangan Fisik & Kognitif pada Masa Remaja



Perkembangan Fisik & Kognitif pada Masa Remaja

Transisi ke Masa Remaja
Plasma pembawa sifat (gen) yang diwariskan dari orang tua masih mempengaruhi pemikiran dan perilaku selama masa remaja, tetapi kini gen interaksi berinteraksi dengan kondisi sosial dunia remaja. Perubahan biologis pemicu peningkatan minat terhadap citra tubuh (body image). Masa remaja, dengan demikian, memiliki sifat kontinuitas.
Perkembangan Fisik
Di Norwegia, menarche atau haid pertama, sekarang terjadi pada usia 13 tahun keatas, dibandingkan dengan usia 17 tahun pada tahun 1840-an. Di AS, anak – anak menjadi dewasa setahun lebih awal daripada anak – anak di negara Eropa. Menarche adalah sebuah peristiwa yang menandai masa pubertas, namun bukan satu - satunya ciri yang muncul.

Perubahan Purbertas
Pubertas (puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Tetapi, pubertas bukanlah suatu peristiwa tunggal yang tiba – tiba terjadi. Pubertas bukanlah suatu peristiwa tunggal yang tiba – tiba terjadi. Pubertas adalah bagian dari suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual).
Faktor di balik munculnya kumis pertama pada anak laki-laki dan melebarnya pinggul pada anak perempuan adalah banjir hormon, yaitu zat-zat kimia yang sangat kuat yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan dibawa ke seluruh tubuh oleh aliran darah.

Aspek-aspek Psikologis yang Menyertai Perubahan-perubahan Fisik
Remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka. Beberapa memasukki masa pubertas lebih awal, yang lain terlambat, dan yang lain lagi tepat pada waktunya.

Perubahan Perkembangan Kognitif
Pemikiran Operasional Formal
Piaget yakin bahwa pemikiran opersional formal berlangsung pada usia 11 hingga 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak daripada pemikiran seoranga anak. Pemikiran remaja juga idealistis. Remaja mulai berpikir tentang ciri-ciri ideal tentang mereka sendiri dan orang lain dengan standar ideal, sementara anak-anak lebih berpikir tentang apa yang nyata dan apa yang terbatas.

Kognisi Sosial
Remaja mengembangkan suatu egosentrisme khusus, mulai berpikir tentang kepribadian. Egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian: penonton khayalan dan dongeng pribadi.  

Penonton Khayalan (imaginary audience) ialah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Dongeng Pribadi (the personal fable) ialah bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang remaja.

Pengambilan Keputusan
Remaja perlu banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan pengambilan keputusan yang realistis. Salah satu strategi untuk meningkatkan pengambilan keputusan remaja tentang pilihan dunia nyata adalah dengan mengembangkan lebih banyak peluang bagi remaja untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitan dengan keadaan semacam ini di sekolah.
Hakekat Sekolah pada Remaja
Kontroversi seputar sekolah lanjutan
Dari tahun 1890-1920, setiap negara bagian di Amerika telah mengembangkan UU yang melarang anak muda bekerja dan mewajibkan sekolah. 

Transisi ke sekolah menengah lanjutan
Munculnya sekolah menengah lanjutan pada tahun 1920-an dan 1930-an didasari pada perubahan fisik, kognitif, sosial yang menjadi ciri masa remaja awal, dan kebutuhan akan sekolah karena populasi murid yang terus bertambah.

Putus sekolah dari SMA
Banyak murid putus sekolah mengalami kekurangan pendidikan yang menghambat kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka di kehidupan dewasa mereka. Untuk mengurangi angka putus sekolah, lembaga pendidikan harus mengatasi hambatan antara pekerjaan dengan sekolah.

Masalah dan gangguan remaja
Obat terlarang, Alkohol, & Kokain
Alkhohol adalah obat-obatan yang paling banyak digunakkan para remaja. Kokain adalah obat yang kontroversial, penggunaanya oleh anak-anak SMA pertama kali menurun dalam kurun waktu 8 tahun pada tahun 1987, suatu kecenderungan yang terus berlanjut.

Peran perkembangan, orang tua, dan teman sebaya dalam penyalahgnaan obat-obatan di kalangan remaja
Kurangnya orientasi konvensional dan ketidakmampuan mengendalikan emosi, kemudian diekspresikan dalam pergaulan teman-teman sebaya pengguna obat-obatan, yang akhirnya menyebabkan mereka sendiri juga menggunakkan obat-obatan. Relasi positif orang tua dan orang lain penting dalam mengurangi penggunaan obat-obatan oleh remaja.

Kenakalan remaja
Juvenile delinguency mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial, pelanggaran, hingga kriminalitas.

Pencegahan dan penangan kenakalan remaja
1.       Program harus lebih luas cakupanny daripada hanya sekadarberfokus pada kenakalan.
2.       Memiliki komponen ganda
3.       Dimulai sejak awal perkembangan
4.       Sekolah memainkan peran penting
5.       Upaya harus diarahkan pada perubahan instittional daripada perubahan individual
6.       Memberi perhatian
7.       Pengembanga yang berkesinambungan

Bunuh diri
Angka bunuh diri meningkat kira-kira pada usia 15 tahun. Faktor proksimal dan distal terlibat dalam sebab-sebab bunuh diri.

Gangguan makan
Anoreksia nervosa & bulima semakin menjadi masalah bagi kaum remaja perempan. Sebab sosial, psikologis, dan fisiologis dari gangguan yang telah dikemukakan

Status para remaja saat ini dan pemuda yang beresiko
Stats remaja saat ini
Dewasa ini remaja menghadapi tuntutan, harapan, serta risiko, dan godaan yang nampaknya lebih banyak dan komlpeks daripada yang dihadapi oleh para remaja yang nempaknya lebih banyak dan kompleks daripada yang dihadapi oleh para remaja generasi sebelumnya.
Menurut beberapa kriteria, para remaja dewasa ini juga lebih berhasil daripada rekan-rekan mereka pada 1 atau 2 dasawarsa sebelumnya. Tapi cukup banyak remaja dewasa ini tidak diberi peluang dan dukungan yang memadai untuk menjadi orang dewasa yang berkompeten.

Citra ideal masa remaja & pesan ambivalen masyarakat kepada para remaja
·        Banyak orang dewasa menghargai kemandiria anak muda, tetapi berkeras bahwa remaja tidak memiliki kedewasaan untuk mengambil keputusan sendiri yang kompeten tentang kehidupan mereka.
·        Remaja dianggap lugu secara seksual tetapi memiliki pengetahuan yang banyak tentang seks.
·        Banyak orang dewasa memberi cap dan mengkritik remaja atas penggunaan obat-obatan oleh remaja, tetapi orang dewasa itu sendiri merupakan penyalahguna obat-obatan dan perokok berat.
·        Masyarakat mempromosikan pendidikan dan pengembangan pengetahuan sebagai suatu hal yang penting untuk berhasil sebagai orang dewasa.

Pemuda yang beresiko
Anak muda yang beresiko tinggi (high-risk youth) meliputi 10% hingga 15% dari populasi anak muda. Mereka berpartsipasi dalam perilaku yang sama dalam frekuensi yang lebih rendah dan akibat yang kurang merusak. Mereka melakukan tindakan kenakalan yang kurang serius.

Di Posting  By Nurhaera